Skip to main content

Jerat Utang Pinjol di Usia Muda, Harga Mahal Demi Gaya Hidup Instan

Ditulis Oleh admin.

Pinjaman Online di Kalangan Anak Muda Indonesia

Pinjaman online atau pinjol kini menjadi candu bagi banyak anak muda Indonesia. Dengan janji uang cepat cair dan proses mudah, pinjol bagaikan surga duniawi yang memabukkan.

Namun di balik euforia itu, pinjol kerap menjerat anak muda dalam utang tak berkesudahan. Seperti candu, awalnya memabukkan, lama-kelamaan menyesakkan dada.

Faktor Penyebab Anak Muda Gemar Pinjol

Ada beberapa faktor yang menyebabkan pinjaman online begitu digemari oleh anak muda di Indonesia:

1. Memenuhi Gaya Hidup Konsumtif

Banyak anak muda memanfaatkan pinjaman online untuk memenuhi gaya hidup yang konsumtif, seperti membeli barang-barang mewah, traveling, nonton konser musik, atau sekadar jalan-jalan ke mall. Pinjaman online dianggap sebagai jalan pintas untuk bisa menikmati gaya hidup glamor tanpa harus menabung terlebih dahulu.

Menurut Nadia Harsya, seorang financial planner, kebanyakan anak muda masih belum bisa meminjam uang secara bijak dan seringkali terjebak dalam gaya hidup yang sebenarnya tidak terlalu penting 1. Sebelum meminjam, penting bagi anak muda untuk memahami konsekuensi dari pinjaman tersebut.

2. Rendahnya Literasi Keuangan

Banyak anak muda belum memiliki pengetahuan keuangan yang memadai untuk mengelola pinjaman dengan bijak. Mereka kurang paham tentang manajemen keuangan, investasi, dan resiko pinjaman berlebih.

Rendahnya literasi keuangan ini menyebabkan anak muda mudah tergiur iming-iming pinjaman online untuk memenuhi keinginan jangka pendek tanpa berpikir panjang tentang kemampuan membayar di kemudian hari.

3. Kemudahan Akses Pinjol Lewat Ponsel

Melalui ponsel pintar, anak muda kini bisa dengan sangat mudah mengakses pinjaman online. Cukup isi data diri, upload KTP, dan pinjaman langsung cair dalam hitungan menit. Ini memicu anak muda untuk melakukan pinjaman secara impulsif tanpa perencanaan matang.

4. Kurangnya Penghasilan untuk Gaya Hidup Mewah

Mayoritas anak muda Indonesia berpenghasilan di kisaran Rp1-5 juta per bulan. Penghasilan tersebut tentu tidak cukup untuk membiayai gaya hidup mewah layaknya selebriti idola mereka. Akibatnya, pinjaman online menjadi solusi instant untuk dapat tampil glamor di media sosial.

Dampak Pinjol Berlebihan pada Anak Muda

Akibat mudahnya akses pinjaman online, banyak anak muda yang akhirnya terjerat dalam pinjaman berlebihan hanya untuk memenuhi gaya hidup semata, bukan untuk kebutuhan mendesak atau hal-hal produktif.

Berdasarkan riset INDEF, rata-rata utang pinjol anak muda bahkan melebihi rata-rata pendapatan mereka1:

  • Rata-rata pinjaman anak muda <19 tahun: Rp2,3 juta
  • Rata-rata pinjaman anak muda 20-34 tahun: Rp2,5 juta
  • Rata-rata pendapatan anak muda Indonesia: Rp2 juta

Artinya banyak anak muda yang terjebak utang pinjol di luar kemampuan membayar mereka. Jika tidak mampu membayar, anak muda tersebut akan semakin tenggelam dalam utang berbunga tinggi dari pinjol.

Menurut survei Populix, 22% pengguna pinjaman online di Indonesia ternyata meminjam untuk keperluan gaya hidup dan hiburan semata. Sisanya meminjam untuk kebutuhan rumah tangga, modal usaha, membeli peralatan kerja, biaya pendidikan, dan kesehatan.

Solusi untuk Cegah Anak Muda Terjerat Pinjol

Beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mencegah anak muda terjebak pinjaman online berlebihan antara lain:

  • Meningkatkan literasi dan edukasi keuangan untuk anak muda, misalnya melalui mata pelajaran di sekolah.
  • Memberikan opsi pinjaman murah dan mudah selain pinjol, misalnya di koperasi atau lembaga keuangan mikro.
  • Membatasi iklan dan promosi pinjol yang berlebihan di media sosial.
  • Menerapkan aturan pinjaman bertanggung jawab di fintech pinjol.
  • Mengajarkan anak muda untuk berpikir jangka panjang dan tidak tergiur gaya hidup instan.
  • Mendorong orang tua ikut memantau dan menasihati penggunaan pinjol oleh anak.

Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan anak muda Indonesia bisa terhindar dari jebakan utang pinjol dan menggunakan layanan pinjaman online secara bijak sesuai kebutuhan, bukan keinginan sesaat.

Generasi muda harus menyadari bahwa hidup glamor di media sosial belum tentu mencerminkan kebahagiaan sejati.

Kesimpulan

Maraknya pinjaman online di kalangan anak muda disebabkan gaya hidup konsumtif, rendahnya literasi keuangan, kemudahan akses lewat ponsel, dan kurangnya pendapatan untuk memenuhi gaya hidup. Akibatnya banyak yang terjerat utang pinjol untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Perlu ada upaya serius dari berbagai pihak untuk mencegah anak muda terjebak pinjaman online berlebihan. Dengan meningkatkan literasi keuangan dan mengajarkan pola pikir jangka panjang, diharapkan anak muda bisa menggunakan layanan pinjol secara bijak sesuai kebutuhan.